Komunitas » NBA
Short URL:
Rahasia Kesuksesan Bruce Bowen, Steve Kerr, dan Jeremy Lin
Rahasia Kesuksesan Bruce Bowen, Steve Kerr, dan Jeremy Lin
Fri, 24 Feb 2012 | 00:01
Teks :
Dibaca : 5.810 kali
*
Embed code : Kaskus Embed Download

SPORTKU.COM - Rahasia kesuksesan Bruce Bowen, Steve Kerr, dan Jeremy Lin. Ketiga pemain tersebut memiliki kesamaan tentang kisah sukses masing-masing. Pertama-tama kita kupas dulu rahasia kesuksesan Jeremy Lin bersama Knicks.

Jeremy sendiri yang memberi jawabannya, "Saya rasa keberhasilan saya bermain baik di Knicks adalah karena kombinasi dari sistem, kemampuan saya untuk mencocokkan diri dengan sistem yang ada, kenyamanan bermain dengan sistem yang ada, diberikan kepercayaan untuk bermain walaupun membuat kesalahan, dan bisa membangun rasa percaya diri."

Perhatikan bahwa kata yang keluar lebih dari sekali pada pernyataan Lin di atas adalah kata "sistem". Kombinasi antara sistem dan pelatih bisa membuat sebuah perbedaan dari efektifitas pemain. Chemistry antar pemain memang berperan penting dalam olahraga basket, namun jangan remehkan juga faktor sistem yang diterapkan pelatih. Dan Jeremy Lin sukses bermain dengan sistem Mike D'Antoni.

Dalam kasus Lin, sistem Mike D' Antoni cocok dengan Jeremy karena Knicks menempatkan banyak shooter di perimeter sehingga membuka ruang gerak untuk Lin agar bisa menciptakan serangan. Defenders harus menjaga pemain Knicks di luar paint area, untuk menghindari defensive three-seconds violation, dan hal ini menciptakan ruang gerak lebar untuk Lin dengan permainan pick and rollnya bersama Tyson Chandler.

D'Antoni merasa Lin mempunyai visi bermain yang bagus. Jeremy pun memberi pujian kepada D'Antoni. Ia berkata bahwa Mike adalah seorang peracik offense yang jenius. "Cara Mike menciptakan sistem luar biasa dan ia selalu melakukan hal yang berbeda di setiap game sesuai dengan defense yang dimainkan lawan," ujar Lin. "Mike bisa membuat kami terlihat hebat...dan bermain untuknya menyenangkan."

Mungkin saja ada Jeremy Lin-Jeremy Lin lainnya yang terkubur di bangku cadangan, menunggu untuk dipasangkan dengan sistem dan pelatih yang cocok.

"Saya pikir 75 percent pemain di NBA bergantung kepada situasi yang tepat, entah itu faktor pelatih, sistem, ataupun rekan setim," ujar Steve Kerr. "Tidak ada keraguan bahwa Jeremy telah menemukan situasi yang tepat untuk dirinya. Sistem Mike D'Antoni adalah pasangan yang tepat untuknya."

Kerr tentu saja familiar dengan situasi Lin. Ia tidak begitu bersinar ketika bermain di Cleveland dan Orlando, sampai akhirnya bermain untuk sistem triangle offense milik Phil Jackson di Chicago.

Empat musim rataan points tertinggi dalam karir Kerr adalah ketika ia bermain untuk Bulls. Kerr menjadi juara di NBA sebanyak lima kali [tiga bersama Bulls dan dua bersama San Antonio]. Kerr pun sampai dipercaya Jordan untuk menjadi pemain dengan tembakan penentu kemenangan Bulls di tahun 1997.

"Posisi saya bukan murni seorang point guard," ujar Kerr. "Saya tidak memiliki kecepatan yang cukup apabila dipressure lawan ketika membawa bola. Dalam sistem triangle offense, seorang point guard tidak dituntut untuk menjalankan offense. Offense dalam sistem triangle didasarkan atas pergerakan bola yang baik. Saya punya kemampuan passing yang baik dan punya kemampuan untuk memahami pertandingan dengan baik. Sistem triangle membuat saya tidak memegang bola terlalu banyak, namun tetap membuat saya bisa mengambil keputusan."

Kerr lupa satu atribut penting dalam dirinya: Ia bisa menembak. Akurasi tembakan tiga angka Kerr adalah yang tertinggi dibanding dengan pemain lainnya dalam sejarah NBA.

"Badan saya tidak cukup besar untuk bermain di posisi 2 dan saya tidak cukup cepat untuk bermain di posisi 1," ujar Kerr. "Dalam sistem dimana PG mendominasi bola di offense, permainan saya tidak akan berkembang. Hal yang sama bisa anda lihat dengan tipe pemain seperti Derek Fisher, B.J. Armstrong, atau John Paxson. Mereka semua adalah pemain yang pintar dan memiliki kemampuan menembak yang baik."

Faktor kenyamanan dan percaya diri merupakan hal yang penting, begitu pula dengan suasana bermain yang menyenangkan. "Ketika anda mendapat kepercayaan dari coach, hanya itulah kepercayaan diri yang anda butuhkan," ujar Matt Barnes.

"Ketika saya gagal memasukkan beberapa tembakan, coach akan memberi saya kepercayaan untuk terus menembak. Ketika coach mendukung saya seperti itu, selama saya bermain dengan pintar, maka saya bisa bermain lepas," ujar Barnes. "Saya melihat hal yang sama di Knicks. Lin mendapat kepercayaan dari D'Antoni dan teman-teman setimnya percaya terhadap dirinya."

Lin bisa jadi menyelamatkan karir D'Antoni di New York. Kadang-kadang pemain bisa menyelamatkan karir pelatih, ataupun sebaliknya. Pelatih San Antonio, Gregg Popovich, akan menjadi orang pertama yang memberi tahu anda bahwa ia tidak akan menjadi pelatih yang lama di Spurs apabila tidak ada Tim Duncan.

Popovich memaksimalkan sistem di Spurs yang sesuai dengan kemampuan sang pemain bintang dan role players yang mendukung sang superstar tersebut.

Bruce Bowen adalah pemain yang mempunyai pengalaman mirip dengan Jeremy Lin dan Steve Kerr. Bowen sempat gagal masuk ke dalam tim Golden State dan Phoenix. Bowen juga sempat bermain dari liga CBA sampai ke liga Prancis. Bowen akhirnya masuk ke tim Celtics yang dilatih oleh Rick Pitino, lalu pindah ke Philadelphia 76ers.

Bowen lalu diambil oleh Miami Heat, dan bersinar bersama Miami [menjadi starter sebanyak 72 pertandingan bersama Heat]. Bowen bermain cukup baik bersama Heat sampai menarik perhatian Spurs di musim berikutnya. Gaji Bowen naik tiga kali lipat dan menjadi juara tiga kali bersama Spurs.

Jika defense adalah kekuatan anda, maka Spurs adalah tim yang tepat untuk anda. Bowen adalah seorang defender perimeter, dengan tandem big man Duncan dan David Robinson semasa di Spurs. Duncan dan Robinson bisa menutup kesalahan Bowen apabila ia gagal menahan drive dari pemain perimeter musuh.

Bowen juga melatih tembakan tiga angkanya dengan cukup agar bisa bermain di lapangan bersama Duncan, Manu Ginobili, dan Tony Parker. Bowen membutuhkan tiga liga dan empat jersey NBA sebelum menemukan rumahnya di San Antonio.

"Saya selalu mempunyai kepercayaan diri," ujar Bowen. "Masalahnya tinggal mendapatkan kesempatan atau tidak. Apabila anda gagal masuk ke dalam satu tim, harusnya anda memiliki motivasi lebih. Yang penting adalah anda harus percaya dengan kemampuan anda sendiri. Karena bila tidak, maka siapa yang akan percaya dengan anda?"

Video courtesy of: http://www.nba.com/video/channels/nba_tv/2012/02/15/021512_lin_highlights.nba/

Basketball Babes
Bikini Basketball