Koleksi » Aksesoris
Short URL:
Komunitas Kartu Basket IBCC - Indonesian Basketball Card Community
Komunitas Kartu Basket IBCC - Indonesian Basketball Card Community
Thu, 03 Nov 2011 | 00:00
Teks :
Dibaca : 80.172 kali
*
Embed code : Kaskus Embed Download

SPORTKU.COM - Apakah anda suka mengumpulkan dan mengkoleksi kartu-kartu basket? Jika iya, anda bisa bergabung di salah satu komunitas kartu basket IBCC yang merupakan kepanjangan dari Indonesian Basketball Card Community.

Komunitas kartu basket bernama IBCC [Indonesian Basketball Card Community] terbentuk pada awal tahun 2011. Anggotanya sudah mencapai ratusan kolektor kartu basket, dari berbagai macam daerah di Indonesia.

Biasanya IBCC selalu mengadakan gathering [kumpul-kumpul] setiap ada hari libur [public holiday], dengan kegiatan bermain basket di Galaxy Ancol atau Cometa Pluit, sekaligus melakukan kegiatan yang berhubungan dengan kartu basket setelahnya.

"Kita bertemu pada hari libur karena para anggotanya hanya bisa dikumpulkan ketika public holiday. Di luar hari libur, mereka pada sibuk dengan kegiatan dan kerjaannya masing-masing," ujar Budhi Purnama Utomo, selaku founder komunitas kartu basket IBCC.

Walaupun lokasi ngumpul-ngumpul terletak di daerah Jakarta Utara, namun para anggota IBCC yang bertempat tinggal di Jakarta Selatan sekalipun, maupun yang di luar Jakarta, tetap rela pergi jauh-jauh untuk hadir dalam acara gathering.

Karena melalui acara gathering tersebutlah sesama kolektor kartu basket dapat saling bertemu dan melakukan kegiatan: trading kartu basket [bertukar koleksi kartu basket], bertransaksi jual beli kartu basket, main basket bareng, atau hanya sekedar ngobrol-ngobrol tentang kartu basket.

Acara gathering IBCC biasanya dimulai dengan bermain basket bersama [di sela-sela bermain basket pun, para kolektor-kolektor yang menunggu giliran bermain sudah mulai asik sendiri berinteraksi seputar kartu basket], lalu bertransaksi/trading/saling lihat-melihat kartu basket, dan diakhiri dengan makan bersama sambil ngobrol-ngobrol santai.

Di luar acara gathering rutin pada hari libur, sometimes anggota komunitas kartu basket IBCC juga tetap bertemu dan berkomunikasi sendiri-sendiri. "Apapun yang terjadi, mereka bisa berkomunikasi sendiri di luar hari libur. Kadang sesudah mereka bertemu, mereka ngabarin hasil ketemuan via Blackberry Messenger group atau lewat forum online," tambah Budhi.

Para kolektor biasanya membawa box berukuran besar [yang bisa ditenteng] untuk menyimpan kartu-kartunya. Malah sampai ada yang membawa kardus untuk berjualan dan koper [seperti yang dipakai untuk berpergian] untuk menampung koleksi kartu.

Rata-rata kolektor kartu basket di IBCC sudah memproteksi koleksi kartunya dengan baik. Artinya, minimal kartu tersebut sudah terlindungi dengan baik oleh sampul plastik. Tujuannya agar kartu terlindungi dari kotoran dan membuat usia kartu lebih awet. Jarang tim Sportku.com menemukan kartu koleksi anggota IBCC yang tidak dilindungi.

Sudah menjadi hal yang umum bahwa barang collectible seperti uang kuno, perangko, koin, dan tentunya juga kartu basket, kondisi barang adalah salah satu yang paling ultimate dan juga kebanggaan sendiri bagi si pemiliknya.
Tentunya kolektor yang memiliki kartu yang sangat baik keadaannya tidak mau dinilai sama dengan kartu yang sedikit kurang baik.

Oleh sebab itu, butuh pihak ketiga yang bekerja secara profesional dalam mengukur dan memberi penilaian secara akurat rating atau grade 1-10 [dimana angka 10 adalah grade/penilaian tertinggi terhadap kualitas sebuah kartu] untuk menandakan kualitas kartu tersebut. Jenis kartu tersebut bernama graded card.

Pada mulanya istilah Mint umum dipakai untuk kartu dengan kondisi sempurna. Pada Beckett terbaru sekalipun, grades teratas adalah Mint (10). Tetapi tidak diketahui sejak kapan, grade teratas berubah menjadi Pristine yang memiliki arti murni dan asli sehingga urutan grade secara keseluruhan ikut berubah. Inilah urutan grade terbaru versi Beckett Grading Service (BGS):
1. Pristine 10
2. Gem Mint / GEM-MT 9.5
3. Mint / MT 9
4. Near Mint - Mint + / NM-MT+ 8.5
5. Near Mint - Mint / NM-MT 8
6. Near Mint + / NM+ 7.5
7. Near Mint / NM 7
8. Excellent Mint + / EX-MT+ 6.5
9. Excellent Mint / EX-MT 6
10. Excellent + / EX+ 5.5
11. Excellent / EX 5
12. Very Good - Excellent +/ VG-EX+ 4.5
13. Very Good - Excellent / VG-EX 4
14. Very Good + / VG+ 3.5
15. Very Good / VG 3
16. Good - Very Good / G-VG 2.5
17. Good 2
18. Fair 1.5
19. Poor 1

Grade di atas digunakan oleh BGS dan tidak digunakan oleh grader lain. Masing-masing grader memiliki ketentuannya sendiri. Sebagai contoh grader PSA tidak mengenal istilah Pristine. Grade 10 PSA adalah GEM MINT.

Ada puluhan perusahaan yang memberikan grading kartu, namun hanya grade dari perusahaan PSA [Professional Sports Authenticator] dan BGS [Beckett Grading Service] yang bisa dipercaya. Namun menurut pengakuan Andrian "Mumu" Mulyadi, salah satu anggota IBCC, apabila ada dua buah graded card yang sama persis dengan nilai 10 versi BGS dan PSA, maka graded card versi BGS akan berharga lebih mahal.

Mengapa kita menggraded kartu?
- Semakin tinggi angka sebuah graded card, semakin mahal value kartu basket tersebut. Apabila kartunya berada dalam good condition, maka harga kartu yang telah digraded bisa naik 1.5 sampai 2 kali lipat lebih mahal dari harga kartu yang sama tanpa grade. Akan tetapi sebaliknya, jika kartu yang digraded memiliki angka rendah, malah dapat menurunkan harga kartu tersebut.

Sebagai contoh 1986-87 Fleer #57 Michael Jordan RC, harga Beckett $600. Tetapi kartu ini yang memiliki grade 10 oleh BGS laku terjual $80.000.

- Proteksi. Karena kartu yang telah digraded akan diberikan case khusus oleh grader yang dirancang dengan baik dan tidak bisa dibuka lagi tanpa merusak casenya. Case tersebut kedap air, kedap udara. Sehingga kartu yang sudah digraded memiliki kondisi yang tetap sama hingga puluhan tahun kemudian sekalipun.

- Jaminan asli. Misalnya saja 1986-87 Fleer #57 Michael Jordan RC sebagai salah satu kartu yang paling banyak dipalsukan. Kalau kita membeli kartu ini dalam keadaan RAW, ada kemungkinan palsu. Tetapi pasti asli kalau kita membeli kartu ini dalam keadaan sudah tergraded oleh BGS.

Termasuk jika kartu tersebut bertanda tangan, dan tanda tangan tsb diperoleh secara langsung dari pemainnya (misal saat pertandingan), grader akan mengidentifikasikan keaslian tanda tangan tersebut dengan bantuan pihak lain yang memiliki keahlian dalam menilai keaslian tanda tangan.

Jadi, kartu palsu, atau kartu bertanda tangan palsu, sudah dijamin tidak akan lolos graded oleh grader. Biasanya kartu tersebut akan dimusnahkan oleh BGS, tetapi grader selain BGS ada yang mengembalikan kartu tersebut kepada pemiliknya.

 

Menurut Budhi, trading kartu lewat sesama kolektor sebuah komunitas kartu basket akan lebih murah ongkosnya ketimbang membeli sendiri. "Biasanya begini, contoh satu kolektor hanya mengumpulkan kartu spesifik seorang pemain basket atau kartu spesifik sebuah tim basket. Dia bisa trading dengan kolektor lain yang mempunyai koleksi yang berbeda, tetapi ya bisa juga membeli," tegas Budhi.

Selain membeli kartu dari sesama anggota IBCC, ada juga cara lain untuk mengkoleksi kartu basket. "Biasanya ada yang membeli dari boks, pack, sesama teman, dan internet. Ada yang trading di forum. Kadang-kadang ada juga yang mendapat kartu karena menang lelang di website online," ujar Budhi.

Mungkin dulu anda pernah mengkoleksi kartu basket bermerk Panini, Upper Deck, Topps, Fleer, dan NBA Hoops? Saat ini hanya ada dua merk produsen kartu yang masih aktif: Panini dan Upper Deck. Sekarang, rights untuk memproduksi kartu basket pemain NBA dipegang oleh Panini. Walaupun demikian, ada juga pemain-pemain spesial yang terikat kontrak dengan produsen kartu seperti Michael Jordan dengan Upper Deck, atau kartu Kobe Bryant yang hanya diproduksi merk kartu basket Panini.

Buat anda yang masih awam tentang kartu basket namun ingin mulai mengkoleksi, tentu anda harus tahu bagaimana membedakan kartu yang bagus atau tidak. "Kartu yang bagus atau tidak itu tergantung dari kolektor atau penjualnya. Sama seperti kita koleksi lukisan/painting, bagus atau tidaknya itu kan abstrak," tegas Budhi Purnama yang hanya menyukai kartu basket Karl Malone dari klub NBA [National Basketball Association] Utah Jazz.

"Namun kalau dari segi value/harga pasaran kita bisa berpatokan dari majalah kartu Beckett. Majalah Beckett  mempunyai daftar harga semua kartu pemain [licensed product dari NBA] yang pernah diproduksi dan range harga dari majalah itu menjadi tolak ukurnya," ujar Budhi.

"Majalah tersebut memberitahukan range harga minimum dan maksimum sebuah kartu, sehingga buyer dan seller mengandalkan harga pasar tersebut untuk bertransaksi secara global," lanjutnya.

Setiap harga kartu basket yang diperjual-belikan oleh kolektor atau produsen kartu sangat bervariasi. Harga sebuah kartu bisa melambung tinggi apabila si pembeli mau menghargai [memberi value] sebuah kartu lebih tinggi daripada harga normal. So tergantung juga dari kesepakatan yang terjadi antara pembeli dan penjual.

"Harga kartu paling murah dari Rp 100 sampai gratis juga ada. Kalau paling mahal baru bulan lalu di lelang/auction online, terjual kartu Michael Jordan Rookie tahun 1986 in perfect grade [10] dengan banderol US$100.000. Berarti kira-kira hampir satu milyar rupiah untuk sebuah kartu!" ujar Budhi.

Budi pun menegaskan bahwa kartu yang terjual dengan harga hampir Rp 1.000.000.000 tersebut tidak dimiliki oleh anggota IBCC, karena kartu tersebut hanya diproduksi tiga kartu saja di seluruh dunia. "Kartu tersebut hanya ada di satu di Australia dan dua kartu lain di USA," tegasnya.

 

Apabila anda ingin ngobrol-ngobrol seputar kartu basket, tuker-menukar [trading] kartu basket, atau ingin main basket bareng dengan sesama kolektor kartu basket, bisa bergabung dengan IBCC. Caranya bisa berkomunikasi lewat:

So kalau anda masih mempunyai kartu basket, disimpan baik-baik. Lalu tanyakan harga kartu anda ke para suhu-suhu kartu basket di IBCC. Siapa tahu kartu basket anda bisa bernilai ratusan juta.

Basketball Babes
Bikini Basketball